wehey.udah lama gak ngepost.heu
okey,saya mau bercerita sedikit tentang la lights ozbox show save rumentang siang pas tanggal 23 kemaren.
saya pergi ama kaka sepupu.pergi dari panyileukan (yeah!hidup panyileukan!hore hore!) jam setengah 1 da katanya acara mulai jam 2 dan takut telat.
nyampe sana jam 2 kuranglah.eh ketemu temennya sepupu.udah we kita basa basi busuk.ternyata dia alumni smp 2 bandung!(cuh)
haha
udah jam 2 lebih 15 ticket box udah dibuka..kata panitia,tiket yang dijual di ticket box cuma sisa 30 lagi.soalnya udah banyak kejual lewat radio kemaren kemaren.
ah goblok! udah we antrian berubah jadi moshing pit..
untungnya saya baris agak di depan.jadi cepet dapetnya.heu
udah dapet tiket,masuk we ke dalem rumentang siang.oiya harga tiket masuknya 30 ribu,itu teh ntar dapet rokok sebungkus. lumayanlah buat balik modal.
band yang tampil pertama angsa dan serigala.
emang pada dasarnya penonton bandung agak kurang respek,kita seruangan pada duduk di lantai.
angsa dan serigala kurang dapet applause soalnya garing sih.
oiya ngereview band acak aja ya.lupa lupa ingat yeuh.
kalo g salah abis kawanan angsa dan serigala itu ada the cuts.
keren banget lah! suara vokalisnya bikin horny.sexy banget!hahaha
udah itu ada endah and rhesa,
cuma berdua,1 orang cewe main gitar akustik 1 orang cowo main bass. penampilannya?
keren demi allah.
tepuk tangan juga seruangan penuh..heu
trus ada white shoes and the couples company,band jakarta.
gimana ya?
karena kurang ngeh jadi we saya ama sepupu keluar dari ruangan buat istirahatkan kuping.
oiya,pas malam menjelang,saya dapet kaos loh!hahaha.beneran balik modal ini mah.
trus ada full of hate. hardcore,asik sih
trus ada cascade. ini band paling geje yang pernah urang liat..gak jelas mereka niat atau gak.cuma pemerkosaan nada gitar aja.
oiya ada yang kelewat,SORE!
ternyata menurut saya biasa saja ah..vokalis yang maen bass bacot mulu.trus ade paloh mirip ama pemain sinetron
trus vincent vega.lumayan.walaupun resleting celana vokalisnya kebuka.
trus ama the milo,mellow bangetlah,geuleuh
THE UPSTAIRS!
keren gila sumpah!vokalisnya keren banget walaupun kata orang tampangnya gak enak diliat.hahaha
sayangnya,jam sudah menunjukan pukul setengah 11 malam dan karena udah puas liat the upstairs.saya ama sepupu bertekad pulang.
pas dijalan baru inget ada yang kelewat.
apa ya. .
hm. . .
ah. .goblok
PURE SATURDAY!
gak nonton.hiks
26 Mei, 2009
11 April, 2009
UGD = udin gawat darurat
sialsial!
knapa iseng malah jadi gini.
si 2 jadi marah lg..sawi tolong aku sawi!aku rela jadi babu kamu dalam 3 hari dngan jaminan semuanya jadi normal.
tapi,nasib si 13 gmana?lngsung pegatkeun wae ini teh?arrgh.shit. .
. .
. . . . . . . . . . . . . . . .
knapa iseng malah jadi gini.
si 2 jadi marah lg..sawi tolong aku sawi!aku rela jadi babu kamu dalam 3 hari dngan jaminan semuanya jadi normal.
tapi,nasib si 13 gmana?lngsung pegatkeun wae ini teh?arrgh.shit. .
. .
. . . . . . . . . . . . . . . .
kecengan?hanya iseng belaka
dear blog.
hahaha.urang ilfil lah ama si '2'.tau g?kalo gtw mah nanya we.hehe
dia gak sesuai ama kriteria urang. 5 kekurangan dia yang tidak (mungkin belum) bisa ditolerir:
1.dia gak bisa maen gitar
2.dia bukan wanita rumahan (RUMAHAN! BUKAN MURAHAN! awas tertukar)
3.menurut gosip kawan se- smp nya dia lebai
4.isi otak aku ama dia tidak sepaham
nah,yang terakhir
5.kalo pas ol ym,aku ngajak chat dia langsung bilang mau ov.ngehe (with h,not w) kan?
knapa urang suka cewe yang main gitar?
mereka terlihat lebih keren.apalagi kalo mainin lagu macam nirvana,pearl jam atau mudhoney.pasti dikejar.haha
knapa urang suka cewe rumahan? soalnya cewe rumahan rata rata orangnya kalem,hobinya bermalas malasan. pokonya mah urang pisan lah!hehe.
kenapa urang gak suka cewe lebai? hm..ini mah sudah jelas.
kenapa urang tidak sepaham?
atmosfir pergaulannya udah beda kayanya.. dan keliatan dia gak suka anak grunge.
buat yang kelima, kayanya dia tau urang ngeceng dia. atau urang ketahuan ngeceng dia. hehe
atau aku piilfileun? mungkin. .
tapi,gmana ya.kayanya mah tetep ngeceng walaupun gimana juga.hehe
hahaha.urang ilfil lah ama si '2'.tau g?kalo gtw mah nanya we.hehe
dia gak sesuai ama kriteria urang. 5 kekurangan dia yang tidak (mungkin belum) bisa ditolerir:
1.dia gak bisa maen gitar
2.dia bukan wanita rumahan (RUMAHAN! BUKAN MURAHAN! awas tertukar)
3.menurut gosip kawan se- smp nya dia lebai
4.isi otak aku ama dia tidak sepaham
nah,yang terakhir
5.kalo pas ol ym,aku ngajak chat dia langsung bilang mau ov.ngehe (with h,not w) kan?
knapa urang suka cewe yang main gitar?
mereka terlihat lebih keren.apalagi kalo mainin lagu macam nirvana,pearl jam atau mudhoney.pasti dikejar.haha
knapa urang suka cewe rumahan? soalnya cewe rumahan rata rata orangnya kalem,hobinya bermalas malasan. pokonya mah urang pisan lah!hehe.
kenapa urang gak suka cewe lebai? hm..ini mah sudah jelas.
kenapa urang tidak sepaham?
atmosfir pergaulannya udah beda kayanya.. dan keliatan dia gak suka anak grunge.
buat yang kelima, kayanya dia tau urang ngeceng dia. atau urang ketahuan ngeceng dia. hehe
atau aku piilfileun? mungkin. .
tapi,gmana ya.kayanya mah tetep ngeceng walaupun gimana juga.hehe
04 April, 2009
about a left handed man. yeah!

gila! baru nyadar nirvana ama pearl jam keren pisan! gila lah jadi terinspirasi pisan.heu
karna saya pingin jadi anak grunge yang baik (bukan anak grunge sejati. saya mencoba menghindari kata sejati,takut dianggap promosi rokok)
iseng iseng saya cari di google "how to be grunge".trus ada link ke wikihow.com. trus saya baca
hasilnya?
saya cuma mengerti 60% saja.soalnya pake bahasa inggris sih.hehe.
tapi garis besarnya sih ngerti.heu
trustrus ngeliat kurt cobain maen gitar.keren!
kenapa saya tidak dilahirkan kidal.heu
pokoknya, kurtcobainisgod!
GRUNGE NEVER DIE!
zz
27 Maret, 2009
apa itu Indie?
Enggak mau ikutan tren, anak-anak indie bikin gaya sendiri biar berbeda. Nyatanya, gaya mereka malah banyak pengikut dan jadi ngetren.
Musik bisa dibilang jadi ujung tombak berkembangnya komunitas indie. Sudah lama kan kita mendengar tentang band-band yang bergerak sendiri untuk memproduksi dan mengedarkan album mereka, yang biasa disebut pergerakan underground. Angkanya memang tidak besar jika dibandingkan dengan Sheila on 7 atau Padi. Tetapi, angka 50 ribu kopi untuk album indie sudah sangat bagus.
Makin lama, dukungan terhadap indie pun besar. Terbukti dengan masuknya nama band asal Bandung, Mocca, dalam deretan grup yang mendapatkan award dari MTV. Stasiun TV yang fokus pada musik itu pun memberikan tempat yang cukup besar bagi musik yang bergerak dengan semangat indie. Tak ketinggalan, sejumlah radio ikut menyediakan segmen khusus bagi musisi-musisi lokal.
Propaganda
Perkembangan hebat ini kemudian diikuti oleh elemen lain yang sangat menunjang. Salah satunya adalah media cetak. Untuk menunjang promosi, biasanya band membuat newsletter untuk memberitakan perkembangan bandnya. Berawal dari selembar kertas fotokopian, lalu mulai dicetak tipis, dan akhirnya bermunculanlah majalah-majalah yang tampilannya enggak kalah keren dibandingkan dengan media cetak mapan.
Bandung, enggak bisa dibilang enggak, adalah sarangnya orang-orang yang punya semangat indie. Dari kota ini dikenal beberapa majalah yang punya nama cukup besar, seperti Ripple dan Pause. Belum lagi majalah-majalah baru yang mulai berkembang.
Kota lain penghasil media cetak indie adalah Yogyakarta yang punya Outmagz dan Medan dengan M-teens, misalnya. Belum lagi yang berupa newsletter dengan kemasan lebih rapi seperti 10.05 (ten o’ five) yang dibagikan gratis.
Awalnya media cetak tersebut adalah ajang untuk propaganda. Tetapi, sekarang sudah berubah jadi bacaan yang bisa kita nikmati dan menambah wawasan kita.
“Fashion”
Style orang-orang ini juga terlihat berbeda dan unik, tetapi enggak “sejorok” seniman. Mereka tetap memperhatikan penampilan, tetapi dengan satu syarat: harus beda dengan yang lain. Syarat tersebut membuat mereka mendesain pakaian sendiri, biasanya berupa t-shirt, yang berbeda dengan rancangan orang lain. Walau sederhana, hanya mengandalkan kekuatan kata dan gambar pada kaus, ternyata desain mereka bisa memancing minat para pencinta fashion.
Biasanya tiap desain dibuat dalam jumlah kecil. Paling banyak satu desain hanya diproduksi 10 potong.
Perkembangan usaha ini makin menjamur. Puluhan merek bermunculan. Usaha bikin kaus itu disebut clothing. Enggak cuma t-shirt, tetapi juga berbagai aksesori, seperti belt, handband, sepatu, sampai boxer.
Makin hari, persaingan semakin ketat. Dalam persaingan ini yang utama adalah ide! Semakin unik dan fresh, clothing tersebut bakal makin dicari.
Distribusi
Banyak produk bersemangat indie dihasilkan, tetapi sedikit tempat yang bisa menjualnya. Karena keterbatasan dana, mereka kesulitan masuk ke toko-toko buku besar. Akhirnya, dibangunlah sistem distribusi yang memanfaatkan jaringan pertemanan. Sampai akhirnya ada sebuah solusi untuk hal ini, yaitu distribution outlet yang lebih dikenal dengan sebutan distro. Biasanya bermula dari menjual produk-produk mereka sendiri, kemudian berkembang banyak yang menitipkan barang untuk dijual di situ.
Belakangan distro makin menjamur di berbagai kota di Indonesia. Apalagi kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, dan Medan. Sebut saja 347 di Bandung, Cynical MD, atau Locker di Jakarta. Begitu banyak nama-nama baru bermunculan. Persaingan yang makin ketat membuat tiap distro adu unik dan eksklusif.
Banyak Pengikut
Puncaknya sekarang ini kita banyak melihat anak muda yang gayanya distro banget. Dan yang sedang in saat ini adalah dandanan ala punk, dengan berbagai atribut, seperti spike dan belt, plus gaya rambut dan tato.
Indie, yang berasal dari kata independent, niatan awalnya adalah antitren. Tetapi keantitrenan itu justru membuat karya- karya mereka dicintai banyak orang. Akibatnya, malah ngetren.
Bahkan, tren itu makin besar gelombangnya. Banyak label rekaman besar yang mencari grup-grup band di kalangan indie. Bahkan sebuah label besar sampai membuat divisi khusus untuk band-band indie. Sudah jadi bisnis menguntungkan, rupanya.
Indie Asli
Saat ini memang sudah sulit membedakan mana yang anak indie asli dan mana yang hanya pengikut. Tetapi, sebenarnya ada ciri-ciri yang tak bisa hilang dari komunitas ini.
Tak sedikit anak band indie yang mendesain sendiri pakaian mereka. Bahkan, turun sendiri ke jalan untuk menempel poster- poster event yang juga mereka buat sendiri.
Mereka bekerja keras untuk mempromosikan apa yang mereka lakukan dengan cara mereka. Maka bertebaranlah newsletter, flyer, dan poster, baik di distro-distro, kedai kopi, maupun toko buku dan kaset tertentu.
Semangat indie adalah semangat menjadi diri sendiri. Semangat tidak ikut arus.
Sumber: Tim Muda Kompas
Musik bisa dibilang jadi ujung tombak berkembangnya komunitas indie. Sudah lama kan kita mendengar tentang band-band yang bergerak sendiri untuk memproduksi dan mengedarkan album mereka, yang biasa disebut pergerakan underground. Angkanya memang tidak besar jika dibandingkan dengan Sheila on 7 atau Padi. Tetapi, angka 50 ribu kopi untuk album indie sudah sangat bagus.
Makin lama, dukungan terhadap indie pun besar. Terbukti dengan masuknya nama band asal Bandung, Mocca, dalam deretan grup yang mendapatkan award dari MTV. Stasiun TV yang fokus pada musik itu pun memberikan tempat yang cukup besar bagi musik yang bergerak dengan semangat indie. Tak ketinggalan, sejumlah radio ikut menyediakan segmen khusus bagi musisi-musisi lokal.
Propaganda
Perkembangan hebat ini kemudian diikuti oleh elemen lain yang sangat menunjang. Salah satunya adalah media cetak. Untuk menunjang promosi, biasanya band membuat newsletter untuk memberitakan perkembangan bandnya. Berawal dari selembar kertas fotokopian, lalu mulai dicetak tipis, dan akhirnya bermunculanlah majalah-majalah yang tampilannya enggak kalah keren dibandingkan dengan media cetak mapan.
Bandung, enggak bisa dibilang enggak, adalah sarangnya orang-orang yang punya semangat indie. Dari kota ini dikenal beberapa majalah yang punya nama cukup besar, seperti Ripple dan Pause. Belum lagi majalah-majalah baru yang mulai berkembang.
Kota lain penghasil media cetak indie adalah Yogyakarta yang punya Outmagz dan Medan dengan M-teens, misalnya. Belum lagi yang berupa newsletter dengan kemasan lebih rapi seperti 10.05 (ten o’ five) yang dibagikan gratis.
Awalnya media cetak tersebut adalah ajang untuk propaganda. Tetapi, sekarang sudah berubah jadi bacaan yang bisa kita nikmati dan menambah wawasan kita.
“Fashion”
Style orang-orang ini juga terlihat berbeda dan unik, tetapi enggak “sejorok” seniman. Mereka tetap memperhatikan penampilan, tetapi dengan satu syarat: harus beda dengan yang lain. Syarat tersebut membuat mereka mendesain pakaian sendiri, biasanya berupa t-shirt, yang berbeda dengan rancangan orang lain. Walau sederhana, hanya mengandalkan kekuatan kata dan gambar pada kaus, ternyata desain mereka bisa memancing minat para pencinta fashion.
Biasanya tiap desain dibuat dalam jumlah kecil. Paling banyak satu desain hanya diproduksi 10 potong.
Perkembangan usaha ini makin menjamur. Puluhan merek bermunculan. Usaha bikin kaus itu disebut clothing. Enggak cuma t-shirt, tetapi juga berbagai aksesori, seperti belt, handband, sepatu, sampai boxer.
Makin hari, persaingan semakin ketat. Dalam persaingan ini yang utama adalah ide! Semakin unik dan fresh, clothing tersebut bakal makin dicari.
Distribusi
Banyak produk bersemangat indie dihasilkan, tetapi sedikit tempat yang bisa menjualnya. Karena keterbatasan dana, mereka kesulitan masuk ke toko-toko buku besar. Akhirnya, dibangunlah sistem distribusi yang memanfaatkan jaringan pertemanan. Sampai akhirnya ada sebuah solusi untuk hal ini, yaitu distribution outlet yang lebih dikenal dengan sebutan distro. Biasanya bermula dari menjual produk-produk mereka sendiri, kemudian berkembang banyak yang menitipkan barang untuk dijual di situ.
Belakangan distro makin menjamur di berbagai kota di Indonesia. Apalagi kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, dan Medan. Sebut saja 347 di Bandung, Cynical MD, atau Locker di Jakarta. Begitu banyak nama-nama baru bermunculan. Persaingan yang makin ketat membuat tiap distro adu unik dan eksklusif.
Banyak Pengikut
Puncaknya sekarang ini kita banyak melihat anak muda yang gayanya distro banget. Dan yang sedang in saat ini adalah dandanan ala punk, dengan berbagai atribut, seperti spike dan belt, plus gaya rambut dan tato.
Indie, yang berasal dari kata independent, niatan awalnya adalah antitren. Tetapi keantitrenan itu justru membuat karya- karya mereka dicintai banyak orang. Akibatnya, malah ngetren.
Bahkan, tren itu makin besar gelombangnya. Banyak label rekaman besar yang mencari grup-grup band di kalangan indie. Bahkan sebuah label besar sampai membuat divisi khusus untuk band-band indie. Sudah jadi bisnis menguntungkan, rupanya.
Indie Asli
Saat ini memang sudah sulit membedakan mana yang anak indie asli dan mana yang hanya pengikut. Tetapi, sebenarnya ada ciri-ciri yang tak bisa hilang dari komunitas ini.
Tak sedikit anak band indie yang mendesain sendiri pakaian mereka. Bahkan, turun sendiri ke jalan untuk menempel poster- poster event yang juga mereka buat sendiri.
Mereka bekerja keras untuk mempromosikan apa yang mereka lakukan dengan cara mereka. Maka bertebaranlah newsletter, flyer, dan poster, baik di distro-distro, kedai kopi, maupun toko buku dan kaset tertentu.
Semangat indie adalah semangat menjadi diri sendiri. Semangat tidak ikut arus.
Sumber: Tim Muda Kompas
26 Maret, 2009
kosong
aneh.bentar lagi UN tapi kok kaya gak ada beban ya?
padahal urang teu bisa nanaon.
cuma menjalani hari hari gak jelas.tiap hari dikamar maen gitar ama maen komputer terus tidur.gak ada perubahan.monoton.
apa nanti urang ngamen dari jalan ke jalan demi kepingan recehan sebagai seniman jalanan yang bergaya bohemian.tidur dimanapun sesuka hati.berjalan kemanapun tanpa beban.
atau jadi mahasiswa abadi yang alcoholic dan kecanduan heroin dan LSD.lalu mati kaya brian jones (mantan gitaris rolling stones) dengan cara ditenggelamkan karena memarahi bapak bapak tua?.shit
i used to play guitar as a kid,wishing that
that i could be like slash.but today i changed my mind.i decided that i dont want to die. but it was a normal day for me. a man who died everyday. . .
padahal urang teu bisa nanaon.
cuma menjalani hari hari gak jelas.tiap hari dikamar maen gitar ama maen komputer terus tidur.gak ada perubahan.monoton.
apa nanti urang ngamen dari jalan ke jalan demi kepingan recehan sebagai seniman jalanan yang bergaya bohemian.tidur dimanapun sesuka hati.berjalan kemanapun tanpa beban.
atau jadi mahasiswa abadi yang alcoholic dan kecanduan heroin dan LSD.lalu mati kaya brian jones (mantan gitaris rolling stones) dengan cara ditenggelamkan karena memarahi bapak bapak tua?.shit
i used to play guitar as a kid,wishing that
that i could be like slash.but today i changed my mind.i decided that i dont want to die. but it was a normal day for me. a man who died everyday. . .
23 Maret, 2009
minta doa pada anda semua
aduh.hayang ngamen euy.tapi teuing rek dimana jeung teuing kumaha caranya.heu
ada yang tau tata cara ngamen yang baik dan benar?heu
eh,pada add fb aku y! search we ngaran urang.hapal teu?
oia,doakan urang asup sma8 .knapa gak 3?
cause its a bullshit for me.hehehe.
amin.
(bilang amin ya,tong cicing wae pas maca teh.hehehe)
oia.lupa(daritadi oia wae)
urang lagi bikin cd yang isinya lagu yang urang nyanyiin sendiri ama lagu tentang kenangan dengan "dia".(kamu tau kan dia siapa?).
ini urang bikin buat kado ultah "dia".emang sih ulang tahunnya masi lama,pas akhir mei.tapi gak ada salahnya kan bikin sekarang?
lagunya sih udah selesai.tinggal covernya gimana.doakan saja selesai sebelum maret berakhir.heu
AMIN
ada yang tau tata cara ngamen yang baik dan benar?heu
eh,pada add fb aku y! search we ngaran urang.hapal teu?
oia,doakan urang asup sma8 .knapa gak 3?
cause its a bullshit for me.hehehe.
amin.
(bilang amin ya,tong cicing wae pas maca teh.hehehe)
oia.lupa(daritadi oia wae)
urang lagi bikin cd yang isinya lagu yang urang nyanyiin sendiri ama lagu tentang kenangan dengan "dia".(kamu tau kan dia siapa?).
ini urang bikin buat kado ultah "dia".emang sih ulang tahunnya masi lama,pas akhir mei.tapi gak ada salahnya kan bikin sekarang?
lagunya sih udah selesai.tinggal covernya gimana.doakan saja selesai sebelum maret berakhir.heu
AMIN
Langganan:
Postingan (Atom)
